Bidang Energi dan Perubahan Iklim

Konsumsi energi yang paling banyak dikonsumsi di Universitas Sumatera Utara adalah energi listrik. Ini dikonsumsi oleh peralatan rumah tangga dan perangkat elektronik seperti lampu, komputer, proyektor, lemari es, unit AC, dan motor listrik. Dalam beberapa tahun terakhir, peralatan rumah tangga dan perangkat elektronik diganti secara bertahap dengan perangkat yang sangat efisien. Gambar dari beberapa perangkat yang sangat efisien ditunjukkan pada gambar di atas. Berdasarkan survei lapangan, penggunaan alat energi sudah sekitar 30%
Energy_Appliance.PNG

Penggunaan peralatan hemat energi

 Konsep smart building di USU mengadopsi sistem otomasi yang dikenal dengan Building Automation System (BAS). Sistem Otomasi Gedung Cerdas mengacu pada penggunaan teknologi informasi dan komputer untuk mengontrol peralatan di dalam gedung. Otomasi cerdas seperti pintu otomatis, sistem timer untuk menyalakan / mematikan lampu secara otomatis pada waktu yang telah ditentukan atau diatur, sistem alarm kebakaran otomatis, dan sistem otomatis dengan timer untuk lampu koridor eksterior. Beberapa gedung USU juga menggunakan sistem pemantauan terpusat untuk AC dan pengatur kelistrikan.

smart_building.PNG
Instalasi gas medis merupakan salah satu utilitas vital di rumah sakit yang terdiri dari gas oksigen, CO2, udara tekan medis dan udara vakum medis vital dengan risiko ledakan jika tekanan dan distribusi tidak memenuhi standar. Oleh karena itu, sistem kendali berbasis digital diterapkan pada instalasi distribusi gas terintegrasi dengan alarm digital untuk memantau dan mencegah semua risiko lebih dini. sistem gas medis digital dapat menghemat uang dan efisien dalam penggunaan.

Automatic Alarm for Medical Gas Control Room
Selain itu, dalam kondisi pandemi baru-baru ini dan kebutuhan untuk mencegah penyebaran virus Sars Cov-2, dibuatlah sink yang dapat digunakan tanpa menyentuh keran.

kran_air_sensor.PNG

 

 Di USU, ada tiga sumber energi terbarukan yang diproduksi di kampus. Mereka:
1. Pembangkit listrik tenaga biogas (Kapasitas daya 10 kW)
2. Listrik dari panel surya (Kapasitas daya 15 kW)
3. Listrik dari speed bump (Gabungan Panas dan Daya) (kurang dari 100 Watt)

Biogas Plant 1

Speed Bump

solar_panel_3.PNG

Pembangkit listrik biogas digunakan untuk mengubah limbah menjadi biogas. Biogas digunakan sebagai Pembangkit Listrik (Genset) untuk menyediakan energi listrik ketika listrik utama dari Jaringan Listrik Nasional tidak ada. Panel Surya terdapat di Biro Rektor (kapasitas 10kW), Laboratorium Teknik Mesin (kapasitas 2 kW), Laboratorium Riset Terpadu UPT Atap (kapasitas 1 kW), dan yang terdapat pada penerangan di sepanjang jalan di Universitas Sumatera Utara (sekitar Kapasitas 2 kW). Energi yang dihasilkan panel surya sekitar 50 kWh per hari, sehingga listrik yang dihasilkan panel surya bisa mencapai 18.000 kWh per tahun. Persentase listrik ini sekitar 3,48% dari total penggunaan listrik di USU, yaitu 516,374 kWh per tahun. Selain itu, sebagian daya listrik yang dihasilkan oleh speed bump digunakan untuk mengisi daya baterai ponsel. Pembangkit energi terbarukan ditunjukkan pada gambar di atas.


Perbedaan sudah terasa pada program sosialisasi dan pelaksanaan kampanye pengurangan konsumsi listrik. Pada periode Oktober 2019 hingga September 2020 terjadi penurunan lebih dari 27% dibandingkan tahun sebelumnya.

 

Sebagian besar gedung Universitas Sumatera Utara menggunakan sinar matahari alami untuk penerangan interiornya. Beberapa bangunan dengan desain lantai kantilever memberikan bayangan pada lantai di bawahnya mengurangi panas panas matahari. Penggunaan sinar matahari alami juga dapat mengurangi konsumsi energi listrik di siang hari.

Full Natural Daylighting in Central Administration Building USU
Lobi Rumah Sakit USU dirancang dengan sistem cerobong asap loteng panas untuk memungkinkan sirkulasi udara alami dari lantai dasar ke atap. Jadikan lobby sejuk dan nyaman tanpa menggunakan AC elektrik.
Ventilasi alami di rumah sakit terjadi karena adanya perbedaan tekanan dan suhu udara untuk menggerakkan udara. Elemen desain menggunakan pelataran dalam dengan perbandingan 1: 1 dengan tinggi bangunan sehingga rumput pelataran dalam yang ditanam tetap teduh pada siang hari untuk menurunkan suhu mikro hingga 30C. Perbedaan suhu pelataran dalam dan ruang luar menggerakkan udara melalui koridor dan kamar rumah sakit.

 

Pada periode Maret 2020 hingga saat ini pengoperasian bus kampus telah dihentikan dan seluruh mahasiswa telah dan sedang melaksanakan perkuliahan dari rumah. Hal ini tentunya menekan jejak karbon yang disumbangkan oleh bus, mobil dan sepeda motor. Selain itu juga berdampak pada ruang kelas yang tidak lagi menggunakan energi listrik untuk penerangan atau pendingin ruangan. Jadi total jejak karbon di Universitas Sumatera Utara sama dengan 0,01 Ton CO2 per kapita per tahun.